Desember 6, 2022
Biografi Imam Syafi’I : Ahli Fikih Pembela Sunnah

Biografi Imam Syafi’i : Ahli Fikih Pembela Sunnah

Biografi Imam Syafi’i  – Nama Imam Syafi’i yaitu Abdullah Mohammed bin Idris Syafi’i Al-Muttalib al-Quraisyi. Silsilah nasab Imam Syafi’i bertemu dengan Rasulullah pada Al-Muttalib.

Lahir di Ashkelon, Gaza, Palestina pada tahun 150 H/767M, dan dianggap selaku salah satu dari empat imam penting Ahlus Sunnah dan masyarakat. Ia yakni pemilik mazhab Syafi’i dalam hukum Islam, dan itu ialah dasar dari prinsip-prinsip hukum yang paling penting. Kecerdasannya, kefasihan lidahnya, dan perjalanan yang panjang dalam mencari ilmu telah disanjung oleh banyak ulama, utamanya Imam Ahmad, di mana beliau berkata: (Imam Syafi’i mirip matahari ke dunia, dan keselamatan bagi orang-orang).

Kelahiran Imam Syafi’i

Imam Syafi’i lahir di Kota Gaza di Palestina, dan kemudian keluarganya pindah ke kota Mekah pada usia dua tahun. Ia menghafal seluruh Quran pada usia tujuh tahun. Kemudian mulai mencari ilmu di kota Mekah, sebelum usia dua puluh. Setelah beliau mencapai usia dua puluh pindah ke Madinah meminta untuk mencari ilmu kepada Imam Malik bin Anas.

Kemudian hijrah ke Yaman. dan lalu bermigrasi ke kota Baghdad pada 184 H, dia meminta wawasan ketika hakim Mohammed bin Hassan, dan mulai mempelajari sekolah anutan Hanafi.

Setelah perjalanan dalam mencari ilmu dari Madinah, Yaman dan Baghdad, Imam al-Syafi’i kembali ke Mekah, dia tinggal selama sekitar sembilan tahun. Yurisprudensi, yang kemudian beremigrasi ke Mesir pada tahun 199 H, sudah melahirkan suatu mazhab di sana, dan tetap di sana hingga ia wafat pada tahun 204 H dikarenakan penyakit wasir. Imam Syafi’i memiliki empat putra: Muhammad Abu Utsman, Fatima, Zeinab, dan Muhammad Abu al-Hassan.

Akhlak dan Sifat Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dikenal karena adalah wawasan dan kecerdasannya yang luas bagaikan samudra ilmu, sehingga beliau menyanggupi pertanyaan orang-orang. Pola belajar Imam Syafi’i tergolong sangat langka dan unik dimana dia saat membaca suatu kitab akan langsung hafal dalam sekali baca, sehingga halaman yang sebelah mesti ditutup.

Baca Juga :  15 Waktu Doa Mustajab

Selain teknik membaca yang unik tersebut alasannya kitab yang sungguh banyak dibaca, Imam Syafi’i juga mesti sering-sering buka apa yang telah ia baca.

Kerendahan hati: Dikenal alasannya adalah kerendahan hati dan kesederhanaannya terlepas dari pengetahuannya, alasannya adalah ia memperlakukan siapa saja dengan hormat tanpa kecuali. Kedermawanan: Dikenal karena kedermawanan dan murah hati. Ibadah dan dedikasi: dicirikan oleh kesalehannya dan seringnya beribadah, dikala dia duduk di masjid secara rutin, di mana ia tadarus Al-Alquran saban hari, tetapi di bulan Ramadhan beliau membaca dan membaca Al-Quran setiap malam.

Makam Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza dan dimakamkan di Mesir. Makam Imam Syafi’i dapat dianggap sebagai salah satu daerah suci paling besar di dunia. Ditandai dengan kehadiran kubah yang dicat kuningan, melambangkan makam khusus Imam Shafi’i, dan dibangun oleh Sultan Solahuddin al-Ayyubi.

Pendidikan Imam Syafi’i

Keluarga Imam Syafi’i sangat miskin di masa mudanya, tidak bisa mengeluarkan uang pendidikannya, dan tingkat guru pertamanya tidak cukup baik, dan dikala dia tidak menghadiri kelas, Imam Syafi’i mengambil potensi dan mengajar siswa alih-alih guru, dan ketika guru melihatnya menjadi sebuah ruang Imam Syafi’i untuk mengajar siswa, dan terus mencari ilmu dan pendidikan, dan menyelesaikan menghafal Alquran pada usia tujuh tahun.

Imam al-Syafi’i menyampaikan perihal pendidikannya saat dia masih muda: Setelah aku selesai belajar Al-Qur’an, saya pergi ke masjid, duduk bareng para ulama, menyimak hadits Nabi Muhammad, dan problem agama. Saya tinggal di Mekah di antara penghuni tenda dalam kondisi miskin. Saya bahkan tidak bisa menggunakannya. Untuk mengeluarkan uang kertas, aku ingin menulis di kulit.

Keadaan lain pada masa kanak-kanaknya: Imam dahulu memiliki hadis di Masjid Nabawi, pada usia tiga belas, dan suara Imam sangat bagus, kata Hakim Bahr bin Nasser: Ketika kami ingin menangis dikala menyimak Quran, kami dahulu pergi ke pemuda itu, dan dia adalah Imam Syafi’i.

Guru Imam Syafi’i Yang Masyhur

Ada sebuah kisah wacana pengalaman Imam Syafi’i dalam mencar ilmu terhadap para guru-gurunya. Diamana dia pernah belajar terhadap orang yang sungguh miskin dan belajar bahwa hidup miskin ialah suatu akhlak yang baik,

    1. Muslim bin Kholid al Zanji

Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Kholid al Zanji. Beliau ialah Imam, Mufti, serta Faqihnya Makkah al- Mukarramah. Ialah salah satu murid terbaiknya Imam Atha’ bin Abi Rabah yang sanad ilmunya terhubung hingga terhadap‘ Abdullah bin‘ Abbas Radhiyallahu‘ anhuma.

Baca Juga :  Hukum Bersiwak Sebelum Shalat

Imam Syafi’i dipertemukan dengan sang guru pada dikala mendaki bukit mina untuk mencari situasi yang pas untuk murojaah dan mendendangkan syair-syairnya. Kemudian datanglah Muslim bin Kholid al Zanji dan berkata “kamu mesti menguasai fikih”. Sejak dikala itulah Imam Syafi’i bertekad untuk menguasai fikih yang hingga ketika ini mazhabnya disertai oleh umat muslim di penjuru dunia.

    1. Sufyan bin Uyainah

Guru Imam Syafi’i yang kedua adalah Sufyan bin Uyainah yang memiliki nama lengkap Abu Muhammad Al-Hilali Al-Kufi Al-Makki”. Nama lengkapnya ialah Sufyan bin Uyainah bin Abu Imran Maimun.

Ia lahir di kota Kuffah pada pertengahan bulan Syaban tahun 107 H. Ia menimba ilmu hadis semenjak berumur 10 tahun. memperoleh ilmu yang banyak serta berpengaruh hafalannya. Ia pernah bertemudengan 87 tabi’ in serta mendengar hadis dari 70 orang di antara mereka.

    1. Malik bin Anas

Guru Imam Syafi’i yang paling masyhur adalam Imam Malik, shohibul Muwatto’ yang sudah sering kita dengar. Pendiri mazhab Maliki. Imam Malik( 711- 795 masehi/ 93- 179 hijriah) adalah ulama pakar fiqih serta hadis. Dia lahir dari keluarga pecinta ilmu hadis, atsar, serta pedoman para sahabat Nabi Muhammad SAW.

    1. Muhammad bin Hasan as Syaibani

Muhammad bin Hasan asy- Syaibani( wasit, 131 H/ 748 Meter.- 189 H/ 804), pakar fikih serta tokoh ketiga Madzhab Hanafi yang berfungsi besar dalam mengembagkan serta menulis ajaran Imam Abu Hanifah. Nama lengkapnya ialah Abu Abdillah Muhammad bin al- Hasan bin Farqad asy- Saybani). Lahir di Wasit, Damaskus( Syuriah) serta besar di Kufah kemudian menimbah ilmu di Baghdad.

    1. Sayyidah Nafisah

Salah satu guru perempuan Imam Syafi’i ialah Sayyidah Nafisah. Sayyidah nafisah lahir di Madinah pada tahun 145 hijriah. Ia merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Karena itu wajar saja jika Sayyidah Nafisah memiliki kecerdasan dan kefasihan mengatakan. Dari keluarganya, beliau beroleh khazanah wawasan ihwal Islam. Jalur kekeluargaan berikut kehidupan kesehariannya menciptakan wawasannya ihwal Al-Qur’an dan hadis Nabi sungguh luas.

Baca Juga :  Muhammad Al-Fatih, Ksatria Muda Turki Utsmani Yang Gagah Berani

Keluarga Imam Syafi’i

Imam Syafi’i menikahi Hamida binti Nafi bin Isa ibn ‘Amr ibn’ Utsman bin Affan, dan putra pertamanya ialah Muhammad Abu ‘Utsman. Yang kedua dan ketiga yakni Fatima dan Zeinab.

Karya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i yang merupakan pembela sunnah dan mujtahid besar. Beliau memiliki karya-karya yang fenomenal dan menjadi rujukan utama ulama Mazhab Syafi’i. Kitab-kitab tersebut ialah selaku berikut:

    1. Kitab Al-Hujjah

Kultur sosial budaya dalam memilih hukum memberikan sumbangsih yang sungguh besar. Terbukti dalam mazhab syafi’i terdapat qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim adalah statement Imam Syafi’i selama beliau di Baghdad baik berupa pedoman maupun tulisan. Termasuk kitab Al-Hujjah ialah karya Imam Syafi’i dikala masih berada di Irak.

    1. Ar-Risalah

Latar belakang Imam Syafi’i dalam menyusun kitab ini yaitu selaku respon terhadap Abdurrahman bin Mahdi yang mengirimkan surat terhadap dia yang mempertanyakan seputar Al-Qur’an dan Hadits.

Pembukuan ini serentak dengan kepesatan kemajuan ilmu- ilmu pengetahuan dalam dunia Islam. Ianya berjalan di  abad khalifah Harun al- Rasyid( 145H- 193H), serta puncaknya pada masa Khalifah al- Ma’ mun( 170- 218H).

3. Kitab Ahkamul Qur’an Wakh Tilafil Hadits

4. Kitab Ibtholul Ihtihsan

5. Kitab Jama’ul Ilmi

6. Kitab Qiyas

7. Kitab Al Mabsuth Fil fiqhi

8. Kitab Ikhtilafu Malik Wa As-Syafi’i

9. Kitab Fadhoilu Quraisy

10. Kitab Al-Umm

Kitab Al-Umm merupakan kitab induk dalam mazhab Syafi’i.

11. Kitab Imla’

12. Kitab Diwan Syair Imam Syafi’i

Melihat perjalanan sang imam dalam mencari ilmu dan dengan karya yang sangat fenomenal. Kita selaku pengikut madzhab Imam Syafi’i semestinya mengerjakan agama Islam dengan madzhabnya secara sungguh-sungguh. Menjauhi talfiq (mencampur adukkan madzhab) dengan mengambil hukum-hukum yang cuma meringankan.

Demikian pembahasan pada peluang kali ini perihal Biografi Perjalanan Imam Syafi’i Sang Ahli Fikih Pembela Sunnah. Semoga apa yang kita pelajari bisa menambah ilmu dan mengambil hikmahnya.